Online-uttarakhand.com – Angin dari stepa utara membawa kisah tentang sebuah kerajaan yang lahir dari bangsa penunggang kuda, membentang kekuasaannya dari Manchuria hingga ke jantung Tiongkok. Di tengah riuh perebutan tahta dan runtuhnya dinasti-dinasti besar, Dinasti Liao muncul sebagai kekuatan yang tak hanya tangguh di medan perang, tetapi juga cerdas mengatur wilayah multietnis dengan sistem pemerintahan ganda yang unik.
Asal Usul Dinasti Liao
Dinasti Liao berdiri pada tahun 916 dan didirikan oleh Yelü Abaoji dari suku Khitan. Suku Khitan sendiri adalah kelompok etnis yang hidup di wilayah yang sekarang di kenal sebagai Manchuria, Tiongkok bagian timur laut. Mereka awalnya di kenal sebagai masyarakat nomaden yang tangguh, terbiasa hidup di daerah stepa, dan memiliki budaya campuran antara pengaruh Tiongkok dan Mongolia.
Awal berdirinya Dinasti Liao tidak lepas dari runtuhnya Dinasti Tang pada tahun 907. Setelah kekacauan politik yang melanda Tiongkok, Yelü Abaoji berhasil mempersatukan suku-suku Khitan dan mengubah mereka dari sekadar bangsa nomaden menjadi penguasa wilayah yang luas. Namun, meskipun dinasti ini di dirikan pada 916, nama “Liao” baru di gunakan secara resmi pada masa pemerintahan Yelü Ruan pada tahun 947.
Perubahan Nama dan Identitas
Awalnya, kekuasaan ini di kenal sebagai Kekaisaran Khitan. Penggunaan nama “Liao” berasal dari Sungai Liao yang berada di wilayah kekuasaan mereka. Menariknya, nama ini sempat di hapus pada tahun 983 dan di ganti, tetapi di kembalikan lagi pada tahun 1066.
Nama Khitan sendiri punya jejak panjang dalam sejarah bahasa. Di dunia Barat, kata “Cathay” yang merujuk pada Tiongkok berasal dari nama Khitan. Bahkan dalam bahasa Rusia, kata “Kitay” yang artinya Tiongkok juga punya akar dari nama ini. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Khitan, terutama melalui Dinasti Liao, tidak hanya terasa di Asia Timur tetapi juga dalam persepsi global terhadap Tiongkok.
Sistem Pemerintahan Dinasti Liao
Salah satu hal unik dari Dinasti Liao adalah sistem pemerintahannya yang memadukan dua tradisi politik sekaligus. Untuk wilayah yang di huni bangsa Han, mereka menerapkan sistem pemerintahan ala Tiongkok dengan birokrasi yang rapi. Sedangkan untuk wilayah Khitan dan bangsa nomaden lainnya, mereka tetap memakai sistem tradisional suku stepa.
Kombinasi ini membuat pemerintahan Liao cukup fleksibel dan mampu mengatur wilayah yang beragam secara budaya. Kaisar memegang kekuasaan tertinggi, di dukung oleh pejabat-pejabat penting dari berbagai latar belakang etnis.
Kehidupan Sosial dan Budaya
Kehidupan di bawah Dinasti Liao mencerminkan perpaduan budaya. Bangsa Khitan tetap mempertahankan adat dan tradisi mereka seperti berburu, memelihara kuda, dan mengenakan pakaian khas stepa. Namun, mereka juga mengadopsi budaya Tiongkok, termasuk aksara, arsitektur, dan seni.
Dinasti ini juga di kenal memajukan seni kerajinan logam, patung, dan pembuatan sutra. Banyak artefak Liao yang di temukan memperlihatkan keindahan perhiasan emas, peralatan perunggu, dan tekstil halus yang menjadi bukti kemakmuran mereka.
Hubungan dengan Dinasti Song
Dinasti Liao hidup berdampingan dengan Dinasti Song di selatan. Hubungan keduanya tidak selalu harmonis. Ada masa-masa perang besar, seperti Perang Song-Liao, yang berakhir dengan Perjanjian Shanyuan pada tahun 1005. Dalam perjanjian itu, Song setuju membayar upeti tahunan kepada Liao untuk menjaga perdamaian.
Meskipun demikian, hubungan perdagangan tetap berjalan. Liao memasok kuda, ternak, dan hasil bumi dari utara, sementara Song mengirimkan sutra, teh, dan barang-barang mewah lainnya.
Kejatuhan Dinasti Liao
Akhir kejayaan Dinasti Liao terjadi pada awal abad ke-12. Bangsa Jurchen, yang berasal dari timur laut, bangkit dan membentuk Dinasti Jin. Mereka melancarkan serangan besar pada tahun 1125 dan berhasil menghancurkan kekuasaan Liao.
Namun, kekalahan ini bukanlah akhir dari segalanya. Sebagian rakyat Khitan yang di pimpin oleh Yelü Dashi melarikan diri ke barat dan mendirikan Dinasti Xi Liao atau Kekhanan Kara-Khitan yang bertahan hingga tahun 1220, sebelum akhirnya jatuh ke tangan pasukan Mongolia di bawah Jenghis Khan.
Warisan Dinasti Liao
Warisan Dinasti Liao masih terasa dalam sejarah Tiongkok dan Asia Tengah. Sistem pemerintahan ganda yang mereka kembangkan menjadi inspirasi bagi dinasti-dinasti setelahnya yang memerintah wilayah multietnis. Selain itu, jejak budaya Khitan masih bisa di lihat melalui peninggalan arkeologi, karya seni, dan catatan sejarah.
Bangsa Khitan juga meninggalkan pengaruh dalam linguistik internasional, terbukti dari kata “Cathay” dan “Kitay” yang masih di gunakan di beberapa bahasa hingga sekarang. Hal ini membuktikan bahwa meskipun Dinasti Liao sudah runtuh hampir seribu tahun lalu, jejaknya masih membekas di dunia modern.
Baca juga: Misteri Kejayaan dan Kejatuhan Dinasti Turki Usmani yang Menggemparkan Dunia
Kesimpuulan
Dinasti Liao adalah salah satu kekuatan besar dalam sejarah Asia Timur yang lahir dari bangsa Khitan, bangsa minoritas yang mampu membangun kerajaan luas dan berpengaruh. Dari sistem pemerintahan unik, perpaduan budaya, hubungan diplomatik, hingga warisan linguistik yang bertahan lama, Liao meninggalkan catatan sejarah yang tak terlupakan. Meski akhirnya runtuh di tangan bangsa Jurchen, nama dan kejayaan Dinasti Liao tetap menjadi bagian penting dari sejarah dunia.